Minggu, 30 Januari 2011

ALIRAN-ALIRAN LINGUISTIK DI BARAT DAN PERKEMBANGAN LINGUISTIK DI INDONESIA

ALIRAN-ALIRAN LINGUISTIK DI BARAT
DAN PERKEMBANGAN LINGUISTIK DI INDONESIA

Muhammad Binur
10745023

Abstrak

Perkembangan linguistik pada saat ini sangatlah pesat. Dalam perkembangannya, terutama yang berhubungan dengan aliran linguistik, tentu saja akan menimbulkan masalah-masalah dalam linguistik atau yang berkaitan dengan linguistik. Berawal dari permasalahan-permasalahan tersebut, banyak sekali ilmuwan yang mengemukakan ide-idenya tentang cara memahami lingusitik lebih lanjut. Namun tanpa pengetahuan yang memadai mengenai linguistik, tentu saja akan banyak kendala dalam memahaminya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai hakikat dan objek kajian linguistik merupakan pintu masuk untuk mendalami aliran-aliran linguistik.
Secara umum, perkembangan kajian linguistik tersebut dapat dilihat dari kian banyaknya teori dan penelitian yang telah dihasilkan serta munculnya bermacam gerakan dan aliran. Perkembangan teori-teori tersebut merata pada berbagai cabang-cabang linguistik, seperti pada fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, juga pragmatik. Bukan itu saja, penelitian-penelitian yang dilahirkan dari perkembangan teori tersebut juga menjadi lahirnya teori baru, sehingga penelitian yang dihasilkan tidak terlepas dari gerakan dan aliran yang memayungi dunia linguistik.
Kata kunci: perkembangan, aliran, linguistik.














PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keberadaan bahasa merupakan keniscayaan bagi manusia, karena bahasa merupakan salah satu pembeda antara hewan dan manusia. Hal ini dikarenakan, hanya manusialah yang memiliki bahasa. Jadi, sudah seharusnya disyukuri apa yang telah dikaruniakan oleh Sang Pencipta kepada kita, yaitu bahasa.
Dalam sejarah perkembangannya, linguistik dipenuhi berbagai aliran dan paham yang dari luar tampaknya sangat ruwet, saling berlawanan dan membingungkan terutama bagi para pemula (Chaer, 2003:332). Sejarah linguistik yang sangat panjang telah melahirkan berbagai aliran-aliran linguistik. Masing-masing aliran tersebut memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang bahasa, tapi pada prinsipnya aliran tersebut merupakan penyempurnaan dari aliran-aliran sebelumnya. Oleh karena itu, dengan mengenal dan memahami aliran-aliran tersebut akan menjadi pedoman bagi setiap orang untuk dapat memilih atau mengacu kepada aliran linguistik apa yang menurutnya baik. Dalam makalah ini akan dipaparkan sejarah perkembangan aliran-aliran linguistik secara singkat dan bersifat umum.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah aliran-aliran linguistik di barat?
2. Bagaimanakah perkembangan linguistik di Indonesia?

C. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan aliran-aliran linguistik di barat.
2. Mendeskripsikan perkembangan linguistik di Indonesia.


D. Kajian Pustaka
1. Makalah Sebelumnya
Berdasarkan penelurusan penulis, ditemukan ada dua makalah yang relevan. Pertama, makalah yang ditulis oleh Dr. Kamal Yusuf berjudul ”Perkembangan Linguistik di Indonesia Hingga Akhir 90-an” (Paradigma, Tendensi, Aliran, dan Gerakan). Yusuf beranggapan bahwa linguistik dewasa ini berkembang dengan pesat. Perkembangan tersebut dapat dilihat dari kian banyaknya teori dan penelitian yang telah dihasilkan, serta munculnya bermacam gerakan dan aliran. Perkembangan teori-teori tersebut merata pada berbagai cabang-cabang linguistik, seperti pada fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, juga pragmatik. Bukan itu saja, penelitian-penelitian yang dilahirkan dari perkembangan teori tersebut pula semarak dan tumbuh bak jamur di musim hujan. Perkembangan teori dan makin banyaknya penelitian yang dihasilkan itu tidak terlepas dari gerakan dan aliran yang memayungi dan menyemarakkan dunia linguistik.
Sedangkan makalah yang kedua, ditulis oleh Muhammad Binur dan Hendrik Wahyu Ditya berjudul Aliran-Aliran Linguistik. Makalah yang kedua ini membahas jenis-jenis aliran linguistik dan ciri-ciri aliran linguistik.

2. Kajian Teori
a. Linguistik
Linguistik berarti ”ilmu bahasa”. Kata linguistik berasal dari kata Latin Lingua yang berarti ’bahasa’. Dalam bahasa-bahasa ”Roman” (yaitu bahasa-bahasa yang berasal dari bahasa Latin) masih ada kata-kata serupa dengan lingua Latin itu, yaitu langue dan langage dalam bahasa Prancis, dan lingua dalam bahasa Italia. Bahasa Inggris mengambil dari bahasa Prancis kata yang kini menjadi language. Istilah linguistic dalam bahasa Inggris berkaitan dengan language. Seperti dalam bahasa Prancis istilah lingustique berkaitan dengan langage, sedangkan dalam bahasa Indonesia ”linguistik” adalah nama bidang ilmu, dan kata sifatnya adalah ”linguistis” atau ”Linguistik” (Verhaar, 2001:3).
Selanjutnya, Verhaar (2001:3) menyebutkan bahwa dalam bahasa Indonesia ahli linguistik disebut ”linguis”, yang dipinjam dari kata Inggris linguist yang berarti ’seorang yang fasih dalam berbagai bahasa’. Ilmu linguistik sering disebut ”linguistik umum”. Artinya, ilmu linguistik tidak hanya menyelidiki salah satu bahasa saja (seperti bahasa Inggris atau bahasa Indonesia), tetapi menyangkut bahasa secara umum.
Bagi linguis, pengetahuan yang luas tentang linguistik tentu akan sangat membantu dalam menyelesaikan dan melaksanakan tugasnya. Seorang linguis dituntut untuk dapat menjelaskan berbagai gejala bahasa dan memprediksi gejala berikutnya. Bagi peneliti, kritikus, dan peminat sastra, linguistik akan membantu mereka dalam memahami karya-karya sastra dengan lebih baik. Bagi guru bahasa pengetahuan tentang seluruh subdisiplin linguistik (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik) akan diperlukan. Sebagai guru bahasa, selain dituntut untuk mampu berbahasa dengan baik dan benar, mereka juga dituntut untuk dapat menjelaskan masalah dan gejala-gejala bahasa. Pengetahuan tentang linguistik akan menjadi bekal untuk melaksanakan tugas tersebut.
b. Sejarah Linguistik
Chaer (2003:332) menyebutkan bahwa studi linguistik telah mengalami tiga tahap perkembangan, yaitu dari tahap pertama disebut tahap spekulasi, tahap kedua disebut tahap observasi dan klasifikasi, dan tahap ketiga adalah disebut dengan tahap perumusan teori. Pada tahap spekulasi, pernyataan-pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada data empiris, melainkan pada dongeng atau cerita rekaan belaka. Pada tahap klasifikasi dan observasi, para ahli bahasa mengadakan pengamatan dan penggolongan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki, tetapi belum sampai pada perumusan teori. Karena itu, pekerjaan mereka belum dapat dikatakan bersifat ilmiah. Penyelidikan yang bersifat ilmiah baru dilakukan orang pada tahap ketiga, dimana bahasa yang diteliti itu bukan hanya diamati dan diklasifikasi, tetapi juga telah dibuatkan teori-teorinya.
Dalam sejarah perkembangannya, linguistik dipenuhi berbagai aliran dan paham yang dari luar tampaknya sangat ruwet, saling berlawanan dan membingungkan terutama bagi para pemula (Chaer, 2003:332). Sejarah linguistik yang sangat panjang telah melahirkan berbagai aliran-aliran linguistik. Masing-masing aliran tersebut memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang bahasa, tapi pada prinsipnya aliran tersebut merupakan penyempurnaan dari aliran-aliran sebelumnya.

E. Model Penelitian
Model penelitian yang digunakan dalam makalah ini adalah model deskriptif. Dikatakan deskriptif, karena mendeskripsikan data yang dianalisis berupa aliran-aliran linguistik baik yang ada di dunia barat, maupun perkembangan linguistik di Indonesia.
Model kualitatif digunakan untuk menguraikan konsep-konsep pemahaman yang berkaitan satu sama lain yang disampaikan secara verbal dan berpedoman pada teori-teori linguistik yang relevan dengan aliran-aliran linguistik itu sendiri.

















PEMBAHASAN

1. Aliran-Aliran Linguistik di Dunia Barat
a. Linguistik Tradisional
Istilah tradisional sering dipertentangkan dengan istilah struktural, sehingga dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa struktural. Kedua jenis tata bahasa ini banyak dibicarakan sebagai dua hal yang bertentangan, sebagai akibat dari pendekatan keduanya yang tidak sama terhadap hakikat bahasa. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam bahasa tertentu. Dalam merumuskan kata kerja, misalnya, tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian, sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat berdistribusi dengan frase ”dengan....” (Chaer, 2003:333).
Terbentuknya tata bahasa tradisional telah melalui masa yang sangat panjang, dari zaman ke zaman, mulai zaman Yunani sampai menjelang munculnya linguistik modern sekitar akhir abad ke-19.
(1) Linguistik Zaman Yunani
Studi bahasa pada zaman Yunani mempunyai sejarah yang sangat panjang, yaitu dari lebih kurang abad ke-5 SM. Sampai abad ke-2 M. Jadi kurang lebih sekitar 600 tahun. Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan pada waktu itu adalah (1) pertentangan antara fisis dan nomos, dan (2) pertentangan antara analogi dan anomali (Chaer, 2003:333).
Fisis (alami) mempunyai prinsip abadi dan tidak dapat diubah dan ditolak, sedangkan nomos (konvensi) beranggapan bahwa bahasa bersifat konvensi, makna dari sebuah kata diperoleh dari hasil tradisi atau kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.
Pertentangan analogi dan anomali menyangkut masalah bahasa itu sesuatu yang teratur atau tidak teratur. Kaum analogi antara lain Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur. Keteraturan bahasa itu tampak, misalnya dalam bahasa Inggris : Boy-Boys. Sebaliknya, kelompok anomali berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. Ini dibuktikan dengan kata dalam bahasa Inggris child menjadi children, bukannya childs (Chaer, 2003:334).
Dari studi bahasa kaum Yunani dikenal nama beberapa kaum atau tokoh yang mempunyai peranan besar dalam studi bahasa, yaitu kaum Sophis, Plato, Aristoteles, Kaum Stoik, dan kaum Alexandrian.
Kaum Sophis melakukan kerja empiris, menggunakan ukuran tertentu, mementingkan retorika dalam studi, dan membedakan kalimat berdasarkan isi dan makna. Salah seorang tokoh Sophis adalah Protogaros. Protogaros membagi kalimat menjadi: kalimat tanya, jawab, perintah, laporan, doa, dan undangan. Tokoh lain, Georgias, membicarakan gaya bahasa.
Plato dalam studi bahasa terkenal, karena: memperdebatkan analogi dan anomaly, membuat batasan bahasa, bahwa bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantara onomata dan rhemata, dan membedakan kata dalam onoma (nama dalam bahasa sehari-hari dan nomina/atau nominal dalam tata bahasa, dan subjek) dan rhema (ucapan dalam bahasa sehari-hari, verba dalam tata bahasa, dan predikat).
Aristoteles membagi kata dalam tiga kelas kata, yaitu anoma, rhema, dan syndesmoi. Syndesmoi adalah kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis. Syndesmoi itu lebih kurang sama dengan preposisi dan konjungsi yang sekarang kita kenal. Aristoteles juga membedakan jenis kelamin kata (gender) menjadi tiga, yaitu maskulin, feminin, dan neutrum.
Kaum Stoik adalah kelompok ahli filsafat yang berkembang pada permulaan abad ke-4 SM. Dalam studi bahasa kaum stoik, terdapat kajian yang terkenal, antara lain karena: (1) membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara tata bahasa, (2) menciptakan istilah khusus dalam studi bahasa, (3) membedakan tiga komponen utama dari studi bahasa, yaitu : 1) tanda, simbol, sign, atau semainon, 2) makna, apa yang disebut smainomen/lekton, 3) hal-hal di luar bahasa yakni benda-benda atau situasi, (4) membedakan legein, yaitu bunyi yang merupakan bagian fonologi tetapi tidak bermakna dan propheretal yaitu ucapan bunyi bahasa yang mengandung makna, (5) membagi jenis kata menjadi empat yaitu kata benda, kata kerja, syndesmoi, dan arthoron yaitu kata-kata yang menyatakan jenis kelamin dan jumlah, dan (6) membedakan kata kerja komplek dan kata kerja tak komplek. Serta kata kerja aktif dan pasif.
Kaum Alexandrian menganut paham analogi dalam studi bahasa. Kaum ini menciptakan buku Dionysius Thrax yang menjadi cikal bakal tata bahasa tradisional. Semasa dengan zaman Alexandrian, di India hidup seorang sarjana Hindu yang bernama Panini, telah menyusun kurang 4.000 pemerian tentang struktur bahasa Sansekerta dengan prinsip-prinsip dan gagasan yang masih dipakai linguistik modern. Karena itulah Panini dianggap sebagai one of greatest monuments of the human intelligence oleh Leonard Bloomfield.
(2) Linguistik Zaman Romawi
Zaman Romawi merupakan kelanjutan dari zaman Yunani. Tokoh pada zaman Romawi yang terkenal antara lain, Varro (116-27 SM) dengan karyanya, De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.
Varro dalam bukunya yang berjudul De Lingua Latina masih membahas masalah analogi dan anomali seperti pada zaman Stoik di Yunani. Buku De Lingua Latina terdiri dari 25 jilid. Buku ini dibagi dalam bidang-bidang etimologi, morfologi, sintaksis.
Tata bahasa Priscia dianggap sangat penting karena merupakan buku tata bahasa Latin paling lengkap yang dituturkan pembicara aslinya dan teori-teori tata bahasa yang merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional. Segi yang dibicarakan dari buku itu adalah: (1) fonologi dibicarakan mengenai huruf/tulisan yang disebut literae/bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan, (2) morfologi dibicarakan mengenai dictio/atau kata, (3) sintaksis dibicarakan mengenai oratio yaitu tata susunan kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai. Buku Institutiones Grammaticae ini telah menjadi dasar tata bahasa Latin dan filsafat zaman pertengahan (Chaer, 2003:341).
(3) Linguistik Zaman Pertengahan
Studi bahasa pada zaman pertengahan mendapat perhatian penuh terutama oleh para filsuf skolastik. Pada zaman pertengahan ini, yang patut dibicarakan dalam studi bahasa antara lain adalah peranan Kaum Modistae, Tata Bahasa Spekulativa, dan Petrus Hispanus (Chaer, 2003: 341).
Kaum Modistae menerima analogi karena menurut mereka bahasa itu bersifat reguler dan universal. Mereka memperhatikan secara penuh akan semantik sebagai penyebutan definisi bentuk-bentuk bahasa, dan mencari sumber makna, maka dengan demikian berkembanglah bidang etimologi pada zaman itu.
Tata Bahasa Spekulativa merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa Latin ke dalam filsafat skolastik. Menurut Tata Bahasa Spekulativa, kata tidak secara langsung mewakili alam dari benda yang ditunjuk.
Petrus Hispanus, memasukkan psikologi dalam analisis makna bahasa, membedakan nomen atas dua macam yaitu nomen substantivum dan nomen edjektivum, membedakan semua bentuk yang menjadi subjek/predikat dan bentuk tutur lainnya.
(4) Zaman Renaisans
Zaman Renaisans dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad modern. Dalam sejarah studi bahasa ada dua hal pada zaman renaisans ini yang menonjol yang perlu dicatat. 1) Sarjana-sarjana pada waktu itu menguasai bahasa Latin, Ibrani, dan Arab, 2) Bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasaan, penyusunan tata bahasa, dan perbandingan.
(5) Menjelang Lahirnya Linguistik Modern
Masa antara lahirnya linguistik modern dengan masa berakhirnya zaman renaisans terdapat satu tonggak yang sangat penting dalam sejarah studi bahasa. Tonggak yang sangat penting itu adalah dinyatakannya adanya hubungan kekerabatan antara bahasa Sansekerta dengan bahasa-bahasa Yunani, Latin, dan bahasa Jerman lainnya yang telah membuka babak baru sejarah linguistik, yakni dengan berkembangnya studi linguistik bandingan atau linguistik historis komparatif, serta studi mengenai hakekat bahasa secara linguistik terlepas dari masalah filsafat Yunani Kuno.
Bila disimpulkan, pembicaraan mengenai linguistik tradisional dapat dikatakan bahwa:
1) Pada tata bahasa tradisional ini, tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan. Oleh karena itu, deskripsi bahasa hanya bertumpu pada tulisan.
2) Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain, terutama bahasa Latin.
3) Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara perspektif, yakni benar atau salah.
4) Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsikan dengan melibatkan logika.
5) Penemuan-penemuan terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan (Chaer, 2003:345).

b. Linguistik Strukturalis
Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri yang dimiliki bahasa itu. Pandanga ini adalah sebagai akibat dari konsep-konsep atau pandangan-pandangan baru terhadap bahasa yang dikemukakan oleh Bapak Linguistik Modern, yaitu Ferdinand de Saussure (Chaer, 2003:346).
(1) Ferdinand de Saussure
Ferdinand de Saussure (1857-1913) dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern, berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Lisguestique General yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan Alberty Sechehay tahun 1915. Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep : 1) telaah sinkronik (mempelajari bahasa dalam kurun waktu tertentu saja) dan diakronik (telaah bahasa sepanjang masa), 2) perbedaan langue dan parole. Langue yaitu keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak, sedangkan parale sifatnya konkret karena parole tidak lain daripada realitas fisis yang berbeda dari yang satu dengan orang lain, 3) membedakan signifiant dan signifie. Signifiant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam alam pikiran (bentuk), signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita (makna), 4) Hubungan sintagmatik dan paradigmatik. Hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear. Hubungan paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan (Chaer, 2003:346).
(2) Aliran Praha
Aliran Praha terbentuk pada tahun 1926 atas prakarsa salah seorang tokohnya, yaitu Vilem Mathesius (1882-1945). Tokoh-tokoh lainnya adalah Nikolai S. Trubetskoy, Roman Jakobson, dan Morris Halle.
Sumbangan aliran ini dalam dalam bidang fonologis (mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem) dan bidang sintaksis dengan menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional. Dalam bidang fonologi aliran praha inilah yang pertama membedakan dengan tegas fonetik dan fonologi.
(3) Aliran Glosematik
Aliran Glosematik lahir di Denmark. Tokohnya Louis Hjemslev yang meneruskan ajaran Ferdinand de Saussure. Namanya menjadi terkenal setelah usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain, dengan peralatan, metodologis, dan terminologis sendirian.



(4) Aliran Firthian
Nama John R. Firth (1890-1960) terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis.
(5) Linguistik Sistematik
Nama aliran linguistik sistematik tidak dapat dilepaskan dari nama M.A.K Halliday, yaitu salah seorang murid Firth yang mengembangkan teori Firth mengenai bahasa, khususnya yang berkenaan dengan segi kemasyarakatan bahasa. Teori yang dikembangan Halliday adalah sistemic linguistics (SL). Pokok pandangan aliran ini adalah:
- SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa.
- SL memandang bahasa sebagai pelaksana.
- SL mengutamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasinya.
- SL mengenal adanya gradasi/kontinum.
- SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa.
(6) Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika
Nama Leonard Blommfield (1877-1949) sangat terkenal dengan bukunya yang berjudul Language (terbit pertama kali tahun 1933), dan selalu dikaitkan dengan aliran struktural Amerika.
Aliran strukturalis yang dikembangkan Bloomfield dengan para pengikutnya sering juga disebut aliran taksonomi dan aliran bloomfieldian. Disebut aliran Bloomfield karena bermula dari gagasan Bloomfield. Disebut aliran taksonomi karena aliran ini menganalisis dan mengklasifikasikan unsur-unsur bahasa berdasarkan hubungan hierarkinya.
Aliran strukturalis menekankan pentingnya data yang objektif untuk memerikan suatu bahasa. Pendekatannya bersifat empirik. Data yang dikumpulkan secara cermat. Bentuk-bentuk satuan bahasa diklasifikasikan berdasarkan distribusinya.


(7) Aliran Tagmemik
Dipelopori oleh Kenneth L. Pike yang mewarisi pandangan Bloomfield. Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem (susunan). Tagmem ini tidak dapat dinyatakan dengan fungsi-fungsi saja. Seperti subjek + predikat + objek dan tidak dapat dinyatakan dengan bentuk-bentuk saja, seperti frase benda + frase kerja + frase benda, melainkan harus diungkapkan kesamaan dan rentetan rumus seperti:
S : FN + P : FN + O : FN
Fungsi subjek diisi oleh frase nominal diikuti oleh fungsi predikat yang diisi oleh frase verbal dan diikuti pula oleh fungsi objek yang diisi oleh frase nominal.

c. Linguistik Transformasional
Dunia ilmu, termasuk linguistik bukan merupakan kegiatan yang statis, melainkan merupakan kegiatan yang dinamis, terus berkembang sesuai dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu ingin mencari kebenaran yang hakiki. Kemudian, orang pun merasa bahwa model struktural itu banyak kelemahannya, sehingga orang mencoba merevisi model struktural. Berikut model-modelnya.
(1) Tata Bahasa Transformasi
Tata bahasa transformasi berusaha mendeskripsikan ciri-ciri kesemestaan bahasa. Lalu karena pada mulanya teori tata bahasa ini dipakai untuk mendeskripsikan kaidah-kaidah bahasa Inggris, maka kemudian ketika para pengikut teori ini mencoba untuk menggunakannya terhadap bahasa-bahasa lain, timbullah berbagai masalah. Apa yang tadinya sudah dianggap universal ternyata tidak universal. Oleh karena itu, usaha perbaikan mulai dilakukan. Tokoh dalam tata bahasa transformasi adalah Noam Chomsky dengan judul bukunya yang terkenal, yaitu Syntactic Structure, terbit tahun 1957. Menurut Chomsky, salah satu tujuan dari penelitian bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari bahasa tersebut. Tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat sebagai berikut.
- Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat.
- Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja, dan semuanya harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.
(2) Semantik Generatif
Menurut teori generatif semantik, struktur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen, dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja. Menurut semantik generatif, sudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama, karena keduanya adalah satu. Tokoh-tokoh dalam aliran ini antara lain: Postal, Lakoff, Mc Cawly, dan Kiparsky.
(3) Tata Bahasa Kasus
Tata bahasa kasus atau teori kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya berjudul ”The Case for Case” tahun 1968. Dalam karangannya yang terbit tahun 1968 itu, Fillmore membagi kalimat atas: (1) modalitas, yang bisa berupa unsur negasi, kala, aspek, dan adverbia; dan (2) proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus.
(4) Tata Bahasa Relasional
Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dicanangkan oleh aliran tata bahasa transformasi. Tokoh-tokoh aliran ini antara lain adalah : David M. Perlmutter dan Paul M. Postal. Tata bahasa relasional (TR) banyak menyerang tata bahasa transformasi (TT), karena menganggap teori-teori TT itu tidak dapat diterapkan pada bahasa-bahasa lain selain bahasa Inggris. Menurut teori bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional (relational network) yang melibatkan tiga macam wujud, yaitu: 1) seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur; 2) Seperangkat tanda relasional (relational sign) yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain; dan 3) seperangkat "coordinates" yang dipakai untuk menunjukkan pada tataran yang manakah elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen yang lain.

2. Perkembangan Linguistik di Indonesia
Sebagai bangsa yang sangat luas, Indonesia sudah lama menjadi kajian penelitian linguis. Para pemerintah kolonial mempelajari bahasa untuk menguasai pemerintahan dan sebagai media penyebaran agama Nasrani. Pada zaman itu, penelitian tentang bahasa masih bersifat observasi dan klasifikasi. Buku yang dibuat Bibliographical Series dari Institut voor Taal, Land, en Volkenkunde Belanda, oleh (Teeuw:1961, Uhlenbeck:1964).
Sejak kepulangan sejumlah linguis Indonesia dari Amerika, seperti Anton M. Moeliono dan T.W. Kamil, mulai diperkenalkan konsep fonem, morfem, frase dan klausa dalam pendidikan formal linguistik di Indonesia. Sebelumnya, konsep-konsep tersebut belum dikenal. Yang dikenal hanyalah satuan kata dan kalimat.
Perkenalan dengan konsep-konsep linguistik modern ini bukanlah tanpa menimbulkan pertentangan. Konsep linguistik modern yang melihat bahasa secara deskriptif sukar diterima para guru besar dan pakar bahasa. Konsep modern menganggap bentuk merubah = mengubah, karena hal itu terdapat dalam bahasa masyarakat sehari-hari. Padalah bentuk merubah adalah bentuk yang salah.
Kridalaksana dalam bukunya Pembentukan Kata Bahasa Indonesia (1989), mempertanyakan akhiran –in seperti pd kata abisin dan awalan –nge (ngebantu) termasuk afiks bahasa Indonesia? Padahal, itu adalah bentuk yang salah, sehingga tidak seharusnya dimuat dalam buku.
Perkembangan waktu yang kemudian menyebabkan konsep-konsep linguistik modern dapat diterima, dan konsep-konsep linguistik tradisional mulai agak tersisih. Awal tahun tujuh puluhan, dengan terbitnya buku Tata Bahasa Indonesia karangan Gorys Keraf, perubahan sikap terhadap linguistik modern mulai banyak terjadi. Buku Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia karangan Sutan Takdir Alisjahbana, yang sejak tahun 1947 banyak digunakan orang dalam pendidikan formal, mulai ditinggalkan. Kedudukannya diganti oleh buku Keraf, yang isinya memang banyak menyodorkan kekurangan-kekurangan tata bahasa tradisional, dan menyajikan kelebihan-kelebihan analisis bahasa secara struktural (Chaer, 2003:379).
Datangnya guru besar Prof. Verhaar dari Belanda, menjadikan studi linguistik terhadap bahasa daerah dan nasional Indonesia semakin marak. Sejalan dengan perkembangan studi linguistik, pada tanggal 15 November 1975 dibentuk MLI (Masyarakat Linguistik Indonesia), sebagai wadah berdiskusi, bertukar pengalaman, dan publikasi penelitian. MLI mengadakan Musyawarah Nasional tiap tiga tahun sekali untuk membicarakan masalah organisasi dan linguistik. MLI menerbitkan jurnal Linguistik Indonesia mulai tahun 1983 untuk laporan dan publikasi penelitian. Penyelidikan terhadap bahasa daerah banyak dilakukan oleh orang luar Indonesia. Kajian terhadap bahasa Jawa dipelajari oleh Uhlenbeck. Voorhove, Teeuw, Rlvink, dan Grijns dengan kajian bahasa Jakarta. Serta Robins (London) dengan kajian bahasa Sunda. Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia menduduki sentral dalam kajian linguistik dewasa ini. Dalam kajian bahasa Indonesia tercatat nama-nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Darjdowidjojo, dan Soedarjanto yang telah menghasilkan tulisan berbagai segi dan aspek bahasa Indonesia (Chaer, 2003:381).












SIMPULAN

Berdasarkan pembahasan makalah pada bagian sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Linguistik di barat terdapat tiga aliran, yaitu : tradisional, struktural, dan transformasional.
a. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik. Dalam merumuskan kata kerja, misalnya, tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian. Terbentuknya tata bahasa tradisional telah melalui masa yang sangat panjang, dari zaman ke zaman, mulai zaman Yunani sampai menjelang munculnya linguistik modern sekitar akhir abad ke-19. Tata bahasa tradisional tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan. Oleh karena itu, deskripsi bahasa hanya bertumpu pada tulisan. Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain, terutama bahasa Latin. Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara perspektif, yakni benar atau salah. Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsikan dengan melibatkan logika. Penemuan-penemuan terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.
b. Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri yang dimiliki bahasa itu. Pandangan ini adalah sebagai akibat dari konsep-konsep atau pandangan-pandangan baru terhadap bahasa yang dikemukakan oleh Bapak Linguistik Modern, yaitu Ferdinand de Saussure. Selain Ferdinand de Saussure, dalam aliran linguistik struktural terdapat pula aliran praha, aliran glosematik, aliran firthin, aliran linguistik sistematik, Leonard Bloomfield, dan aliran tagmemik.
Aliran Praha terbentuk pada tahun 1926 atas prakarsa salah seorang tokohnya, yaitu Vilem Mathesius (1882-1945). Tokoh-tokoh lainnya adalah Nikolai S. Trubetskoy, Roman Jakobson, dan Morris Halle. Aliran Glosematik lahir di Denmark. Tokohnya Louis Hjemslev yang meneruskan ajaran Ferdinand de Saussure. Namanya menjadi terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain, dengan peralatan, metodologis, dan terminologis sendirian. Nama John R. Firth (1890-1960) terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Nama aliran linguistik sistematik tidak dapat dilepaskan dari nama M.A.K Halliday, yaitu salah seorang murid Firth yang mengembangkan teori Firth mengenai bahasa, khususnya yang berkenaan dengan segi kemasyarakatan bahasa. Teori yang dikembangan Halliday adalah sistemic linguistics (SL). Nama Leonard Bloomfield (1877-1949) sangat terkenal dengan bukunya yang berjudul Language (terbit pertama kali tahun 1933), dan selalu dikaitkan dengan aliran struktural amerika. Aliran strukturalis yang dikembangkan Bloomfield dengan para pengikutnya sering juga disebut aliran taksonomi dan aliran bloomfieldian. Aliran tagmemik dipelopori oleh Kenneth L. Pike yang mewarisi pandangan Bloomfield. Menurut aliran ini, satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem (susunan). Tagmem ini tidak dapat dinyatakan dengan fungsi-fungsi saja.
c. Linguistik Transformasional. Dalam aliran ini dikenal tata bahasa transformasi, semantik generatif, tata bahasa kasus, dan tata bahasa relasional.
Tata bahasa transformasi berusaha mendeskripsikan ciri-ciri kesemestaan bahasa. Tokoh dalam tata bahasa transformasi adalah Noam Chomsky dengan judul bukunya yang terkenal dengan Syntactic Structure pada tahun 1957. Menurut Chomsky, salah satu tujuan dari penelitian bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari bahasa tersebut. Tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat, yaitu kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat dan tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja, dan semuanya harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.
Menurut teori generatif semantik, struktur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen, dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja. Menurut semantik generatif, sudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu.
Tokoh-tokoh dalam aliran ini antara lain: Postal, Lakoff, Mc Cawly, dan Kiparsky. Tata bahasa kasus atau teori kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya berjudul The Case for Case tahun 1968. Dalam karangannya yang terbit tahun 1968 itu, Fillmore membagi kalimat atas: (1) modalitas, yang bisa berupa unsur negasi, kala, aspek, dan adverbia; dan (2) proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dicanangkan oleh aliran tata bahasa transformasi. Tokoh-tokoh aliran ini antara lain adalah : David M. Perlmutter dan Paul M. Postal.
2. Studi tentang linguistik di Indonesia sampai saat ini belum ada catatan lengkap, meskipun studi linguistik di Indonesia sudah berlangsung lama dan cukup semarak. Walaupun demikian, masih dikenal tokoh-tokoh linguistik di Indonesia, yaitu Anton M. Moeliono, T.W. Kamil, Gorys Keraf, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Verhaar. Dalam kajian bahasa Indonesia, tercatat nama-nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Darjdowidjojo, dan Soedarjanto yang telah menghasilkan tulisan dari berbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.



Daftar Rujukan


Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Miles, Matthew B., dkk. 1992. Analisis Data Kualitatif, Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru, Terjemahan Tcecep Rohendi Rohidi, Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Soeparno. 2003. Dasar-dasar Linguistik. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.

Verhaar, J.W.M. 2001. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

http ://www. ariprasetyo_ aliran-aliran linguistk..com
http ://www. kamalyusuf_ perkembangan linguistik di Indonesia hingga akhir 90-an.
http ://www. muhamadarif_ sejarah dan aliran linguistk..com

http ://www. pakdesofa_aliran linguistik..com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar