Minggu, 30 Januari 2011

ANALISIS BENTUK KEBAHASAAN PENGGUNAAN DISFEMIA PADA TABLOID BOLA EDISI CATUR WULAN PERTAMA

ANALISIS BENTUK KEBAHASAAN PENGGUNAAN DISFEMIA
PADA TABLOID BOLA EDISI CATUR WULAN PERTAMA


Ismawati
10745013

Abstrak:
Pada makalah ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk kebahasaan. Disfemia dalam tabloid BOLA edisi caturwulan pertama, pada penulisan ini menganalisis hanya dalam bentuk kebahasaan. Objek dalam penulisan ini adalah disfemia yang terdapat dalam tabloid BOLA, sedangkan subjek dalam penulisan ini adalah kalimat yang mengandung disfemia yang terdapat dalam tabloid BOLA pada caturwulan pertama. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca catat, instrumen yang digunakan adalah human instrument, yaitu penulis sendiri yang didukung dengan pengetahuan tentang seperangkat kriteria kedisfemiaan, yaitu sebuah kata yang mempunyai nilai rasa kasar, jika telah dimasukkan ke dalam kalimat dipengaruhi oleh konteks kalimat adanya kata yang bermakna selaras tetapi, bernilai rasa lebih netral. Teknik analisis data yang digunakan dalam penulisan ini adalah teknik agih sisip. Hasil penulisan ini yaitu bentuk kebahasaan disfemia yang terdapat dalam tabloid BOLA berupa kata dan frase.


Kata Kunci: Disfemia, Bentuk Kebahasaan, Tabloid “BOLA”






ANALISIS BENTUK KEBAHASAAN PENGGUNAAN DISFEMIA
PADA TABLOID BOLA EDISI CATUR WULAN PERTAMA

1. Latar belakang Masalah
 Dahulu kebebasan pers sangat dibatasi, sehingga wartawan dalam menyajikan berita harus mempertimbangkan aspek teknis dan politis dari ungkapan-ungkapan yang akan ditulisnya. Para wartawan sering mengganti ungkapan-ungkapan yang maknanya kasar atau jelek dengan ungkapan yang maknanya lebih halus. Tetapi sekarang kebebasan itu sudah tidak dibatasi lagi, sehingga wartawan bebas mengkreasikan kata-kata sesuai dengan makna yang sebenarnya. Wartawan tidak perlu menutup-nutupi hal yang bersifat buruk ataupun kasar. Wartawan dapat menampilkannya sesuai dengan kenyataan. Terkadang wartawan lebih suka menggunakan kata yang bermakna kasar atau memberikan kesan penegasan dari pada kata yang bersifat biasa dan cenderung halus. Hal itulah yang disebut dengan gejala disfemia atau pengasaran.
Disfemia merupakan pengasaran yaitu kebalikan dari penghalusan (Chaer, 1995:145). Kata-kata yang maknanya memiliki komponen semantis yang negatif dapat digunakan penutur untuk menyerang orang lain, oleh karena itu, Wijana (1999:63) mengungkapkan bahwa disfemia merupakan penggunaan bentuk-bentuk kebahasaan yang mempunyai nilai rasa tidak sopan atau yang ditabukan. Disfemia banyak ditemukan dalam berita-berita kasus, hukum, kriminal, dan olahraga. Dalam berita kasus hukum dan kriminal, disfemia digunakan untuk menegaskan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum dan akibat yang diterima oleh pelaku kejahatan tersebut.
Dalam hubungannya dengan yang terakhir ini, bentuk kebahasaan merupakan bentuk-bentuk yang mengandung arti baik arti leksikal maupun gramatikal (Ramlan, 2001:27). Bentuk kebahasaan ini, berupa kata ataupun frase yang mempunyai makna yang selaras, tetapi mengandung nilai rasa yang lebih kasar.
 Tabloid BOLA merupakan salah satu tabloid olahraga yang banyak digemari masyarakat, terutama pecinta olahraga sepakbola. Tabloid ini terbit dua kali dalam sepekan. Informasi yang disajikan berupa berita-berita dari seluruh cabang olahraga, terutama sepakbola yang terjadi di dalam maupun di luar negeri. Tabloid ini sangat digemari, karena selain menyajikan informasi yang lengkap mengenai cabang olahraga sepakbola, juga penyajian beritanya yang akurat dan tegas.
 Tabloid BOLA, ini menyajikan berita dan olahraga sepak bola yang terjadi di luar negeri. Dalam tabloid ini, banyak diulas mengenai pertandingan-pertandingan dari klub-klub sepak bola yang ada di Eropa. Selain itu, dalam tabloid ini juga ditulis mengenai profil pemain, terdapat klasemen sementara liga dan peta kekuatan klub yang akan bertanding untuk musim liga yang sedang berlangsung tahun ini. Tabloid ini sangat menarik dan banyak dibaca.
 Dalam tabloid BOLA ini banyak ditemukan penggunaan disfemia. Wartawan justru sering menggunakan kata-kata yang bersifat kasar atau bersifat penegasan daripada kata-kata yang bersifat biasa atau halus. Kadang-kadang penggantian ini terkesan tidak lazim digunakan, meskipun tidak lazim, penggantian itu sudah mengalami penyesuaian makna dengan konteks kalimatnya. Hal itu dapat dilihat pada pengungkapan laporan hasil pertandingan. Pengungkapan penegasan bagi pihak yang mengalami kekalahan dan yang menang, ungkapan untuk kemampuan para pemain sepak bola yang tidak prima, maupun kemarahan-kemarahan para pelatih dan pemain terhadap perlakuan lawan mainnya ataupun terhadap jalannya pertandingan.
 Penggunaan disfemia dalam penyajian berita-berita olahraga dalam tabloid BOLA ini memberikan nilai rasa yang berbeda-beda sesuai dengan topik atau fakta yang disajikan, oleh karena itu penggunaan disfemia dalam berita olahraga menarik perhatian dari penulis untuk dapat mengetahui bentuk-bentuk disfemia yang digunakan, nilai rasa yang ditimbulkan, dan tujuan penggunaan bahasa disfemia.
Lebih memfokuskan kajian ini dan untuk menghindari kesimpangsiuran dan ketidakakuratan data yang dianalisis, permasalahan yang akan dibahas dibatasi pada bentuk kebahasaan disfemia dalam tabloid olahraga BOLA.



2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Apa sajakah bentuk kebahasaan penggunaan disfemia pada tabloid BOLA edisi catur wulan pertama?
2. Bagaimanakah analisis bentuk kebahasaan penggunaan disfemia pada tabloid BOLA edisi catur wulan pertama?

3. Tujuan Penelitian
Makalah ini bertujuan untuk membantu memahami tentang disfemia yang meliputi:
1. Mendeskripsikan bentuk kebahasaan penggunaan disfemia pada tabloid BOLA edisi catur wulan pertama.
2. Analisis bentuk kebahasaan penggunaan disfemia pada tabloid BOLA edisi catur wulan pertama

4. Kajian Pustaka
4.1 Pengertian Disfemia
 Disfemia merupakan pengasaran, yaitu kebalikan dari penghalusan (Chaer, 1995: 145). Disfemia merupakan usaha untuk mengganti kata-kata yang maknanya halus atau bermakna biasa dengan kata yang maknanya kasar. Usaha atau gejala pengasaran ini biasanya dilakukan orang dalam situasi yang tidak ramah atau untuk menunjukkan kejengkelan, misalnya kata mencaplok digunakan untuk menyatakan makna ‘mengambil dengan begitu saja’, seperti dalam kalimat dengan seenaknya Israel mencaplok wilayah Mesir, kata beringas dipakai untuk menyatakan makna ‘garang dan liar’, seperti dalam kalimat sewaktu terjadi kerusuhan di Solo beberapa tahun lalu, ia juga terjun ke lapangan menghadapi ribuan massa yang beringas, dan menjarah.
 Banyak juga kata yang sebenarnya bernilai kasar yang sengaja digunakan untuk lebih memberikan tekanan tetapi tanpa terasa kekasarannya. Kata menggondol yang biasa digunakan untuk binatang, misalnya dalam kalimat Anjing menggondol tulang. Kata-kata yang maknanya memiliki komponen semantis yang negatif dapat digunakan penutur untuk menyerang orang lain, oleh karena itu, Wijana (1999: 63) mengungkapkan bahwa disfemia merupakan penggunaan bentuk-bentuk kebahasaan yang memiliki nilai rasa tidak sopan atau yang ditabukan.
 Berdasarkan definisi yang diberikan para ahli di atas dapat disimpulkan, bahwa disfemia merupakan usaha penggunaan bentuk-bentuk kebahasaan yang mempunyai nilai rasa kasar, tidak sopan atau yang ditabukan.

4.2 Bentuk Kebahasaan Disfemia
 Bentuk kebahasaan merupakan bentuk-bentuk baik arti leksikal maupun gramatikal (Ramlan, 2001:27). Bentuk kebahasaan dalam penelitian ini berupa kata ataupun frase yang mempunyai nilai kasar, tidak sopan ataupun ditabukan.
4.2.1 Kata
Kata menurut Kridalaksana (1993:98) adalah morfem-morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diajarkan sebagai bentuk yang bebas, satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri. Chaer (1995: 162) mendefinisikan kata sebagai satuan bahasa yang memiliki pengertian. Kata menurut Ramlan (2001:33) adalah satuan bahasa yang terkecil, dapat diucapkan secara berdikari.
 Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kata adalah satuan terkecil yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai arti, contoh bentuk kebahasaan disfemia yang berupa kata antara lain ‘muak’ merupakan bentuk disfemia dari kata ‘bosan’, kata ‘momok’ merupakan bentuk disfemia dari kata ‘hantu, dan kata duel’, merupakan bentuk disfemia dari kata pertandingan, masing-masing contoh tersebut dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut:
1) Pamannya mengaku sudah muak dengan perilakunya yang tidak bisa diatur dan ugal-ugalan.
2) Pengakuannya justru akan menjadi momok yang dapat menghancurkan kariernya.
3) Duel menegangkan itu mensisakan bagi tari Thailand.


4.2.2 Frase
Bentuk kebahasan lain adalah frase. Frase menurut Kridalaksana (1993:59) adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif. Gabungan ini dapat rapat dan dapat renggang. Soeparno (2002:101) mendefinisikan frase sebagai konstruksi gramatikal yang secara potensial terdiri atas dua kata atau lebih, yang merupakan unsur dari sebuah klausa dan tidak bermakna preposisi, sedangkan menurut Ramlan (2001:138-139) frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa. Maksudnya frase itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa, yaitu S, P, O, Pelengkap, dan Keterangan.
Disfemia yang berupa frase adalah penggunaan konstruksi mesin pembunuh seperti yang terdapat dalam kalimat berikut:
“Sebutan baru Madrid sebagai mesin pembunuh ketika melihat Villa Dolid 7-0, tak harus membuat roma gamang”.

Frase mesin pembunuh merupakan bentuk lain yang mempunyai makna yang sama dengan tim frase ‘penakluk’, frase mesin pembunuh mempunyai nilai rasa yang lebih kasar, karena mempunyai makna sebuah mesin yang mematikan.

5. Metode Penelitian
5.1 Objek dan Subjek
 Objek dalam pembahasan ini adalah disfemia yang terdapat dalam tabloid BOLA, sedangkan subjek dalam pembahasan penulisan ini adalah kalimat yang mengandung kata disfemia yang terdapat dalam tabloid BOLA pada catur wulan pertama.

5.2 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Penulisan ini termasuk penulisan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca catat (Sudaryanto, 1993:135). Teknik baca dilakukan dengan cara membaca dan mengamati secara cermat dan teliti semua hal yang mempunyai ciri sebagai bentuk disfemia. Setelah kegiatan pembacaan kemudian dilakukan pencatatan. Kegiatan pencatatan ini dilakukan dengan cara mencatat dan mendokumentasikan semua data. Kegiatan mendokumentasikan data ini dilakukan dengan memindahkan data-data pada surat kabar ke dalam kartu data yang sudah dipersiapkan dan kemudian dianalisis.
Contoh bentuk kartu data sebagai berikut:



Gambar: kartu data
Keterangan:
01 : Tanggal data ditampilkan
04 : Menunjukkan bulan data ditampilkan
027 : Menunjukkan nomor urut data

5.3 Instrumen
 Instrumen dalam penulisan ini adalah Human Instrument, yaitu penulis sendiri yang didukung dengan pengetahuan tentang kriteria kedisfemiaan. Kriteria tersebut adalah sebuah bentuk kebahasaan, jika sudah diimplementasikan dalam sebuah kalimat menentukan suatu bentuk bermakna kasar atau halus dengan cara memisahkan yang termasuk dalam data disfemia dan bukan termasuk data disfemia.

5.4 Metode dan Teknik Analisis Data
Metode pada pembahasan penulisan ini adalah metode agih, yaitu teknik analisis data bahasa yang alat penentunya adalah bagian dari bahasa yang bersangkutan, dengan kata lain metode ini digunakan untuk menganalisis bentuk kebahasaan disfemia (Sudaryanto, 1993:15).
Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik agih sisip. Teknik agih sisip digunakan untuk menganalisis bentuk satuan gramatik disfemia. Teknik ini menentukan apakah sebuah gabungan kata merupakan kata majemuk atau frase. Misalnya kata “tipu muslihat”disisipi dengan kata dan, atau, yang, maka hasilnya adalah sebagai berikut.
  dan
Tipu atau muslihat
  yang
Istilah tersebut ternyata tidak cocok disisipi dengan kata-kata dan, atau, yang, maka kata tersebut disebut kata majemuk.

5.5 Uji Keabsahan Data
 Keabsahan data dalam penulisan ini diperoleh melalui intrarater dan interater, interarater dilakukan dengan cara mencermati kembali dengan teliti data yang tersedia. Interater dilakukan dengan mendiskusikannya dengan para ahli dalam bidang semantik serta beberapa teman sejawat yang mengetahui permasalahan disfemia dalam tabloid BOLA catur wulan pertama.

6. Pembahasan
Bentuk kebahasaan disfemia yang ditemukan dalam tabloid BOLA catur wulan pertama adalah sebagai berikut:
6.1 Bentuk Kebahasaan Berupa Kata
Disfemia yang mempunyai bentuk kebahasaan berupa kata dapat dilihat dalam data berikut:
(1) Di arena Premier league, MU, dikenal ganas dalam mengawali sebuah pertandingan (22/04/147)
(2) Kala itu pada putaran group Bian Coneri membabat olympiakos (04/04/02)
(3) Keunggulan tuan rumah lewat borongan dua gol Mathew Taylor akhirnya dimentahkan William Gallas serta eksekusi penalti Robin van Persie (01/04/076)
(4) Sebelum membuat gol, ia melakukan gerakan tanpa bola yang gagal diantisipasi pertahanan Milan saat Atalanta menusuk dari sayap kanan (01/04/066)
(5) ”Klub-klub selalu mencari bekas pemain terkenal. Begitulah budaya di Inggris” kata Andy Cale di FA (22/04/142)

Dalam konteks kalimat (1) kata ganas merupakan bentuk disfemia dari kata agresif. Jika dilihat dari nilai rasanya kata ganas mempunyai nilai rasa lebih kasar daripada agresif terlebih untuk konteks manusia. Pemilihan kata agresif sebagai bentuk lain dari bentuk disfemia ganas didasarkan pada persamaan makna kedua kata tersebut, yaitu sifat suka menyerang pada sesuatu hal atau situasi yang bersifat mengecewakan, menghalangi, ataupun menghambat.
Dalam konteks kalimat (2) kata membabat merupakan bentuk disfemia dari kata mengalahkan. Dilihat dari nilai rasanya, kata membabat mempunyai nilai rasa lebih kasar karena mempunyai makna suatu pekerjaan menebas (pohon ,semak belukar, atau rerumputan), menyikat habis atau menghabiskan (makanan). Kata mengalahkan dipilih sebagai bentuk lain dari kata membabat karena keduanya mempunyai makna yang selaras, yaitu sama-sama membuat lawan (yang dihadapi)
 Dalam konteks kalimat (3) kata eksekusi merupakan bentuk disfemia dari kata hukuman. Kata eksekusi mempunyai nilai rasa lebih kasar dari pada kata hukuman yang lebih bersifat netral. Kata eksekusi mempunyai makna pelaksana putusan pengadilan (khususnya hukuman mati). Pemilihan kata hukuman sebagai bentuk lain dari kata eksekusi didasarkan pada persamaan dari keduanya, yaitu merupakan keputusan yang dijatuhkan oleh hukum.
 Dalam konteks kalimat (4) kata menusuk merupakan bentuk disfemia dari kata menyusup. Kata menusuk mempunyai nilai rasa lebih kasar daripada kata menyusup, karena menusuk mempunyai makna mencolok dengan barang yang runcing, menikam. Pemilihan kata menyusup sebagai bentuk lain dari kata menusuk didasarkan pada persamaan keduanya, yaitu masuknya sesuatu ke sesuatu yang lain.
 Kata bekas dalam kalimat (5) merupakan bentuk disfemia kata mantan. Kata bekas mempunyai makna sudah pernah dipakai (untuk benda atau barang). Pemilihan kata mantan sebagai bentuk lain dari kata bekas didasarkan pada persamaan keduanya yaitu, sama-sama pernah digunakan.

6.2 Bentuk Kebahasaan Berupa Frase
Disfemia yang mempunyai bentuk kebahasaan berupa frase yang ditemukan dalam kalimat-kalimat pada tabloid BOLA tampak dalam kalimat berikut:
(6) The Reds tentu berniat mencuri tiga poin di kandang angker, untuk mempersulit United memeroleh gelar lagi (21/03/099)
(7) Sebutan baru Madrid sebagai mesin pembunuh ketika melumat Villadolid 7-0 tak harus membuat Roma gamang (19/02/115)
(8) Sheffield United adalah pembunuh raksasa bagi lawan-lawannya (15/02/129)

Dalam konteks kalimat (6) frase kandang angker merupakan bentuk disfemia dari daerah berbahaya. Pemilihan ini didasarkan oleh adanya persamaan makna dari keduanya, yaitu sama-sama merupakan sebuah tempat yang rawan meskipun keduanya mempunyai persamaan, tetapi kandang angker mempunyai nilai rasa lebih kasar dan menakutkan. Kandang angker mengacu pada tempat untuk memelihara binatang yang biasanya keadaannya kotor dan ditambah dengan suasana angker yaitu suasana menyeramkan, suasana yang berhubungan dengan hal-hal gaib seperti hantu, jin dan lain sebagainya.
Jika dilihat dari unsur distribusinya dalam kalimat konstruksi kandang angker merupakan frase endosentrik atribut. Hal itu bisa dilihat dengan adanya unsur pusat dan unsur yang menjadi atributnya. Unsur pusat dari frase ini adalah kata kandang, sedangkan unsur atributnya adalah kata angker. Kata kandang merupakan unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frase dan secara semantik merupakan unsur yang terpenting, untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam konteks kalimat berikut.
(6a) The Reds tentu berniat mencuri tiga poin di kandang itu untuk mempersulit United memeroleh gelar lagi (21/03/099)
(6b) The Reds tentu berniat mencuri tiga poin di angker itu untuk mempersulit United memeroleh gelar lagi (21/03/099)

 Dari konteks kalimat di atas nampak bahwa kata kandang merupakan unsur yang terpenting, sedangkan kata angker merupakan sebagai atribut.
 Berdasarkan kategori frase kandang angker merupakan frase nominal yaitu frase yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal. Hal itu bisa dilihat dalam konteks kalimat berikut.
(6c) The Reds tentu berniat mencuri tiga poin di kandang angker, untuk mempersulit United memeroleh gelar lagi (21/03/099)
(6d) The Reds tentu berniat mencuri tiga poin di kandang itu, untuk mempersulit United memeroleh gelar lagi (21/03/099)

Frase kandang angker dalam kalimat di atas mempunyai distribusi yang sama dengan kata kandang. Kata kandang termasuk golongan kata nominal, karena itu, frase kandang angker termasuk dalam kategori ini, frase nominal.
 Dalam konteks kalimat (7) frase mesin pembunuh merupakan bentuk disfemia dari konstruk tim penakluk. Jika dilihat dari nilai rasanya konstruksi mesin pembunuh mempunyai nilai rasa yang lebih kasar dan menyeramkan daripada tim penakluk yang mempunyai arti sebuah tim yang selalu memenangkan setiap pertandingan. Penggunaan istilah mesin pembunuh dalam konteks kalimat ini bertujuan untuk menguatkan makna dari istilah tim penakluk. Hal itu didasarkan pada kemampuan mesin yang selalu di atas kemampuan manusia.
 Jika dilihat dari unsur distribusinya dalam kalimat frase mesin pembunuh termasuk jenis frase endosentrik atributif karena terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara. Kata pembunuh merupakan unsur pusatnya dan kata mesin merupakan atributnya. Agar lebih jelasnya dapat dilihat dalam konteks kalimat berikut.
(7a) Sebutan baru Madrid sebagai pembunuh ketika melumat Villadolid 7-0 tak harus membuat Roma gamang (19/02/115)
(7b) Sebutan baru Madrid sebagai mesin ketika melumat Villadolid 7-0 tak harus membuat Roma gamang (19/02/115)

Dari konteks kalimat di atas tampak bahwa kata pembunuh merupakan unsur yang penting, sedangkan kata mesin merupakan unsur atribut.
Berdasarkan kategori kata, maka frase mesin pembunuh merupakan frase nominal yaitu frase yang memilikii distribusi yang sama dengan kata nomina. Hal itu bisa dilihat dalam konteks kalimat berikut:
(7c) Sebutan baru Madrid sebagai mesin pembunuh ketika melumat Villadolid 7-0 tak harus membuat Roma gamang (19/02/115)
(7d) Sebutan baru Madrid sebagai pembunuh ketika melumat Villadolid 7-0 tak harus membuat Roma gamang (19/02/115)
Frase mesin pembunuh dalam kalimat di atas mempunyai distribusi yang sama dengan kata pembunuh. Kata pembunuh termasuk golongan kata nominal, karena itu frase mesin pembunuh termasuk dalam kategori frase nominal.
Secara kategorial frase nominal, maka frase ini terdiri dari kata nominal. Hal itu dapat dilihat dari kata nomina sebagai unsur pusatnya, yaitu pembunuh dan didahului olah kata nominal pula sebagai atributnya, yaitu mesin.
Dalam konteks kalimat (8) frase pembunuh raksasa merupakan bentuk disfemia dari konstruksi tim penguasa, jika dilihat dari nilai rasanya konstruksi pembunuh mempunyai nilai rasa yang lebih kasar dan menakutkan dari pada tim penguasa. Pembunuh raksasa mempunyai makna makhluk yang menyerupai manusia berbadan besar dan tinggi yang mematikan. Penggunaan istilah pembunuh raksasa dalam konteks kalimat ini bertujuan untuk menguatkan makna dari istilah tim penguasa. Hal itu didasarkan pada kekuatan raksasa yang besar dan tak terkalahkan.
Jika dilihat dari distribusinya dalam kalimat frase pembunuh raksasa termasuk jenis frase endosentrik atributif karena terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara. Kata pembunuh merupakan unsur pusatnya dan kata raksasa merupakan atributnya. Agar lebih jelasnya dapat dilihat dari konteks kalimat.
(8a) Sheffield United adalah pembunuh bagi lawan-lawannya (15/02/129)
(8b) Sheffield United adalah raksasa bagi lawan-lawannya (15/02/129)

Dari konteks kalimat di atas nampak bahwa kata pembunuh merupakan unsur yang terpenting, sedangkan kata raksasa merupakan unsur atribut.
Berdasarkan kategori katanya maka frase pembunuh raksasa merupakan frase nominal yaitu frase yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal. Hal itu bisa dilihat dalam konteks kalimat berikut:
(8c) Sheffield United adalah pembunuh raksasa bagi lawan-lawannya (15/02/129)
(8d) Sheffield United adalah pembunuh bagi lawan-lawannya (15/02/129)

Frase pembunuh raksasa pada kalimat di atas mempunyai distribusi sama dengan kata pembunuh. Kata pembunuh termasuk golongan kata nominal, karena itu frase mesin pembunuh termasuk dalam kategori frase nominal.
Secara kategorial frase nominal, maka frase ini terdiri dari kata nominal . hal itu dapat dilihat dari kata nominal sebagai unsur pusatnya yaitu pembunuh dan diikuti kata nominal sebagai atributnya yaitu raksasa.

7. Penutup
Berdasarkan analisis dan pembahasan dapat diperoleh bahwa bentuk kebahasaan disfemia yang ditemukan dalam BOLA catur wulan pertama adalah bentuk kata dan frase
























DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Eriyanto. 2004. Bahasa Jurnalisme.diakses dari http//alqalam.blogspot.com. pada tanggal 12 Desember 2010.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik (edisi keempat). Jakarta: Gramedia Pustaka.

Mahayani, Tri dan Yeti. 2005. Analisis Eufemia dan Disfemia dalam Surat Kabar Pikiran Rakyat sebagai Bahan Ajar Kosa Kata di Sekolah. Diakses di http//fkip-unpak.org. pada tanggal 12 Desember 2010.

Ramlan. 2001. Ilmu Bahasa Sintaksis. Yogyakarta: CV. Karyono.

Soeparno. 2002. Dasar-dasar Linguistik. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Wijana, I. G. P. Semantik. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Negeri Yogayakarta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar