Minggu, 30 Januari 2011

Frasa Adverbial dalam Bahasa Jawa

FRASA ADVERBIAL DALAM BAHASA JAWA


Latif Nur Hasan
10745062

Abstrak:

Frasa adverbial sebagai salah satu bagian dari kategori kata, merupakan bagian dalam ilmu linguistik yang termasuk dalam cabang sintaksis. Frase adverbial memiliki suatu keunikan tersendiri untuk diteliti. Sebagai salah satu kategori kata, adverbial diakui sulit ditentukan identitasnya atau kejatiannya. Sebagian besar orang mungkin akan terkecoh antara adverbial dengan keterangan yang menjadi salah satu fungsi dalam sebuah tataran sintaksis. Sehingga perlu diketahui ciri-ciri pembeda yang bisa dijadikan acuan untuk mengenalinya. Begitu juga dengan frase adverbial dalam bahasa Jawa.
Pembahasan mengenai frasa adverbial ini akan sangat menarik dengan mempelajari unsur-unsur pembentuknya yang oleh sebagian orang hanya diucapkan tanpa dipahami proses apa yang sebenarnya terjadi dalam frasa adverbial ini. Frasa adverbial dalam tulisan ini dijabarkan dengan menggolongkan berdasarkan kategorinya yang selanjutnya disertai dengan pensubkategorian yang terdapat pada frasa adverbial. Dengan mengidentifikasi bentuk-bentuk dan letak strukturalnya akan sangat memperjelas kedudukan frasa adverbial dalam ilmu linguistik yang dibedakan dengan keterangan sebagai fungsi sintaksis.
Frasa adverbial itu dibedakan dengan keterangan sebagai fungsi sintaksis yang diketahui sebagian orang selama ini. Frasa adverbial mempunyai fungsi memberikan keterangan terhadap kata pada suatu kedudukan tertentu dalam suatu kalimat baik yang mengikuti maupun yang diikutinya. Bedasarkan kategorinya frasa adverbial dapat digolongkan menjadi empat jenis, yaitu frasa adverbial verbal, frasa adverbial adjektifal, frasa adverbial nominal predikatif, dan frase adverbial klausal. Dari masing-masing kategori tersebut dapat digolongkan lagi menjadi beberapa subkategori yang didasarkan pada bentuk dan letak strukturnya. Subkategori frase adverbial berdasarkan bentuknya dapat dibagi lagi menjadi monomorfemis dan polimorfemis, sedangkan frase adverbial berdasarkan letak strukturalnya dapat dibagi menjadi letak kanan, letak kiri, dan letak bebas.

Kata Kunci: Frase adverbial, Bahasa Jawa

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Frasa adverbial sebagai salah satu bagian dari kategori kata, merupakan bagian dalam ilmu linguistik yang termasuk dalam cabang sintaksis. Frase adverbial memiliki suatu keunikan tersendiri untuk diteliti. Sebagai salah satu kategori kata, adverbial diakui sulit ditentukan identitasnya atau kejatiannya. Sebagian besar orang mungkin akan terkecoh antara adverbial dengan keterangan yang menjadi salah satu fungsi dalam sebuah tataran sintaksis. Sehingga perlu diketahui ciri-ciri pembeda yang bisa dijadikan acuan untuk mengenalinya. Begitu juga dengan frase adverbial dalam bahasa Jawa yang menjadi rumit ketika mengklasifikasikan kategori kata keterangan (katrangan) yang merupakan fungsi atau adverbia yang merupakan kategori.
Frase adverbial sebenarnya telah dibahas dalam beberapa buku linguistik, tetapi dalam penjabarannya belum dilakukan secara jelas jelas dan terperinci. Beberapa buku yang membahas frasa adverbial tersebut belum menjelaskan bagaimana pembagian kategorinya dengan rinci sehingga diperlukan pembahasan mengenai frasa adverbial ini. Untuk dapat memahami seluk beluk frasa adverbial tersebut, maka dalam tulisan ini akan dijabarkan mengenai identifikasi dan klasifikasi frasa adverbial berdasarkan fungsinya sebagai pemberi keterangan.
Pembahasan mengenai frasa adverbial ini akan sangat menarik dengan mempelajari unsur-unsur pembentuknya yang oleh sebagian orang hanya diucapkan tanpa dipahami proses apa yang sebenarnya terjadi dalam frasa adverbial ini. Frasa adverbial dalam tulisan ini akan dijabarkan dengan menggolongkan berdasarkan kategorinya yang selanjutnya disertai dengan pensubkategorian yang terdapat pada frasa adverbial. Dengan mengidentifikasi bentuk-bentuk dan letak strukturalnya akan sangat memperjelas kedudukan frasa adverbial dalam ilmu linguistik yang dibedakan dengan keterangan sebagai fungsi sintaksis.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang terdapat dalam latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
1.2.1 Bagaimana identifikasi frasa adverbial?
1.2.2 Bagaimana klasifikasi frasa adverbial dalam bahasa Jawa?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan perumusan masalah yang telah dijabarkan pada sub bab sebelumnya, maka tulisan ini bertujuan sebagai berikut:
1.3.1 Mendeskripsikan identifikasi frasa adverbial.
1.3.2 Mendeskripsikan klasifikasi frasa adverbial dalam bahasa Jawa.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Identifikasi Frasa Adverbial
Frasa adverbial sebagai salah satu kategori kata yang bersifat memberikan keterangan terhadap salah satu fungsi dalam kalimat. Kata keterangan tersebut bersifat memberikan keterangan (Keraf, 1979:71). Keterangan terhadap fungsi tersebut bisa diletakkan di depan, belakang maupun bebas dalam suatu kalimat. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa adverbial berkorespondensi dengan verba akan tetapi tidak hanya itu saja adverbial juga bisa berkorespondensi dengan kategori kata yang lain, diantaranya adjektiva. Sasangka (2008:160) berpendapat bahwa frasa adverbial itu umumnya berupa kata keterangan.
Selain itu, di lain pihak ada yang merancukan antara adverbial dengan keterangan, yaitu sebagai salah satu fungtor dalam kalimat atau sebagai salah satu fungsi sintaksis dan ada pula yang merancaukan dengan adjektiva karena bentuknya (Muslich, 2008:123). Putrayasa (2008:55) juga berpendapat bahwa adverbial tidak boleh dikacaukan dengan keterangan karena adverbial merupakan konsep kategori, sedangkan keterangan merupakan konsep fungsi. Verhaar (2006:366) mengatakan bahwa frasa adverbial terdiri dari adverbia sebagai induk dan adverbial (atau frasa adverbial) lain sebagai konstituen bawahan. Mengenai fungsi bawahan dan peran bawahan ini, Verrhaar (1992:98) menjelaskan bahwa belum banyak diteliti. Dalam kedudukannya frasa adverbial dapat mendampingi adjektiva, numeralia atau proposisi dalam konstruksi sintaksis. Frasa adverbial dapat berupa kata dasar maupun turunan. Bentuk turunan tersebut terwujud melalui afiksasi, reduplikasi, dan lain-lain.
Selain itu, pensubkategorian frase adverbial juga mempertimbangkan hal-hal seperti tersebut di bawah ini.


a. Bentuk
Berdasarkan banyaknya morfem yang membentuknya maka frasa adverbial dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu:
1) monomorfemis atau morfem yang membentuk frasa adverbial terdiri atas satu morfem.
2) polimorfemis atau morfem yang membentuknya lebih dari satu morfem dan cara pembentukannya dengan cara sebagai berikut:
a) dengan mengulang kata dasar
b) dengan mengulang kata dasar dan menambahkan sufiks –an
c) dengan afiks sa-/-e
d) dengan mengulang bentuk dasar dan menambahkan afiks sa-/-e
e) dengan mengulang suku pertama bentuk dasar dan menambahkan sufiks –an
f) dengan mengulang bentuk dasar dan menambahkan prefiks ke-
g) dengan kata yang diberi keterangan

b. Struktur sintaksis
Sudaryanto (1991: 108-112) mengatakan bahwa dengan mempertimbangkan struktur sintaksisnya maka frasa adverbial dapat dibedakan satu sama lain berdasarkan letak strukturalnya, baik letak kanan atau letak kiri terhadap kategori satuan lingual yang diadverbiai. Di samping itu, pembedaan itu dapat pula berdasarkan lingkup jangkauan strukturalnya apakah adverbia itu terbatas hanya di dalam frasa ataukah melampaui frasa dan misalnya menjangkau pula lingkup kalimat dengan kata lain letak strukturalnya bebas.
c. Makna
Frasa adverbial dapat dibedakan juga berdasarkan kekhasan maknanya, yang dibentuk sesuai dengan kategori satuan lingual yang diadverbiai sehingga ada adverbia pewatas, cara, dan yang lain (Sudaryanto, 1991:108).
2.2 Klasifikasi Frasa Adverbial dalam Bahasa Jawa
Berdasarkan kategori satuan lingual yang di-adverbia-i atau diberi keterangan oleh adverbia maka frasa adverbial dalam bahasa Jawa dapat dibedakan menjadi empat golongan seperti tersebut di bawah ini.
Tabel 1
Klasifikasi Frasa Adverbial


BAB III
METODE PENELITIAN

Metode adalah cara kerja untuk memahami suatu objek yang bersangkutan. Teknik adalah jabaran dari metode tersebut sesuai dengan alat dan sifat alat yang dipakai. Tahapan atau urutan penggunaan teknik disebut prosedur (Sudaryanto, 1991:11). Metode dan teknik penelitian merupakan alat yang dipilih dalam melaksanakan penelitian. Metode yang dipilih harus berhubungan erat dengan alat serta teknik penelitian yang digunakan.
Penelitian tentang frase advebial dalam bahasa jawa ini meliputi tahapan sebagai berikut:

3.1 Tahap Pengumpulan Data
Pada tahap ini peneliti melakukan pengumpulan data dengan metode simak. Metode ini dilakukan dengan cara membaca dan memahami wacana, serta dilanjutkan dengan teknik catat yaitu dengan mencatat kata atau kalimat yang ada pada sumber data. Langkah-langkah yang digunakan peneliti pada tahap pengumpulan data adalah sebagai berikut:
Langkah pertama adalah mengumpulkan data, setelah semua data terkumpul kemudian data yang ada tersebut diperiksa dengan cara membaca dan memahami wacana secara berulang-ulang.
Langkah kedua adalah seleksi data, semua data yang sudah diperiksa, kemudian peneliti mengidentifikasikan bentuk frase adverbial yang terdapat pada objek data serta menandai kata atau kalimat yang mengandung bentuk-bentuk frase adverbial, dilanjutkan dengan mencatatat serta memberi nomor pada kata atau kalimat yang sudah ditandai tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan penulis dalam mencari dan mengelompokkan data.
Langkah keempat yaitu pengelompokkan data. Data yang sudah diseleksi kemudian dikelompokkan menjadi satu. Pengelompokan data didasarkan pada bentuk frase adverbial, fungsi, dan struktur sintaksis.


3.2 Tahap Analisis Data
Data yang sudah terkumpul, kemudian dianalisis dengan menggunakan metode padan. Metode padan digunakan dalam analisis data penelitian ini, sebab bahasa yang diteliti memiliki hubungan dengan hal-hal di luar bahasa yang bersangkutan. Metode ini dijabarkan dalam satu teknik dasar, yaitu teknik dasar pilah unsur penentu (PUP) dengan menggunakan daya pilah translational. Daya pilah translational merupakan daya pilah yang digunakan dalam analisis bahasa dengan alat penentunya adalah bahasa lain. Alat pilah yang digunakan sebagai pedoman translit bahasa Jawa adalah kamus Jawa-Indonesia dan kamus bahasa Indonesia. Bahasa Jawa yang merupakan frase adverbial dalam penggunaan bahasa Indonesia, dianalisis dan dipadankan sesuai dengan bahasa Indonesia yang benar. Dalam analisis ini, tidak menutup kemungkinan adanya analisis silang, yaitu data yang sama dimungkinkan untuk dianalisis lebih dari satu kali tetapi untuk kajian yang berbeda.

3.3 Tahap Penyajian Data
Penyajian hasil analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode informal. Penyajian informal yaitu berupa rumusan dengan menggunakan kata-kata biasa (Sudaryanto, 1991:144-159). Alasan digunakannya metode informal dalam penyajian hasil analisis karena penelitian ini bersifat deskriptif. Maksudnya pendeskripsian dari dari gejala atau keadaan yang terjadi pada objek data penelitian. Frase adverbial diungkapkan secara apa adanya berdasarkan pada data, sehingga hasil perian ini benar-benar merupakan suatu fenomena bahasa yang sesungguhnya.
Data yang sudah dianalisis kemudian diberi penjelasan dibawahnya mengenai jenis frase adverbial, analisis dan sumber data.

BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Frasa Adverbial Verbal
Frasa adverbial yang adverbnya berfungsi sebagai pemberi keterangan terhadap kata kerja yang diikuti ataupun yang mengikutinya. Dalam makalah ini frasa adverbial ditunjukkan dengan huruf yang dicetak tebal dan miring. Pensubkategorian frasa adverbial verbal seperti yang terdapat di bawah ini.
4.1.1 Berdasarkan Bentuk
Berikut disajikan contoh frasa adverbial verbal berdasarkan bentuknya.
1) Monomorfemis
Berikut ini contoh-contoh frasa adverbial verbal berdasarkan bentuk monomorfemis.
(1) Ndhuk, ndang adus kana!
’Nak, cepat mandi sana!’
(2) Muliha saiki, selak padu malahan mengko!
’Pulanglah sekarang, keburu bertengkar malahan nanti!’
(3) Omongane kaya semu ngenyek mau esuk.
’Kata-katanya seperti agak menghina tadi pagi.’
(4) Wong wadon iku sing sregep, aja mung turu wae!
’Wanita itu yang rajin, jangan tidur saja!’
(5) Surahmi ora mangan sega sore mau.
’Surahmi tidak makan nasi sore tadi.’

Berdasarkan data di atas, frasa adverbial mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject . Namun dalam bentuk monomorfemis ini l-subject tidak harus dieksplisitkan tetapi juga bisa dalam bentuk implisit, seperti contoh (2). Argumen yang mendampingi berupa agen. Hal tersebut bisa dilihat dari argumen agen (1), (2), (3), (4), dan (5) yang dapat melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan. Melekatnya frasa adverbial pada verba ini menaikkan valensi dari satu menjadi dua argumen inti. Dari contoh-contoh tersebut, ada argumen yang mengalami foregrounding dan backgrounding, seperti kalimat (5). Argumen agen ‘Surahmi’ bisa mengalami backgrounding jika kalimat diubah menjadi bentuk pasif, kedudukannya berubah menjadi oblik, sedangkan untuk sega mengalami foregrounding dari objek menjadi pasen, untuk keterangan ‘sore mau’ menempati argumen adjung. Untuk perubahan kalimat aktif (5) menjadi bentuk pasif, yaitu ‘Sega dipangan dening Surahmi mau sore’.

2) Polimorfemis
Berikut disajikan contoh-contoh penerapan bentuk polimorfemis frasa adverbial verbal.
(6) Wisnu gage-gage numpuk garapane menyang bu guru.
’Wisnu cepat-cepat mengumpulkan tugasnya ke bu guru.’
(7) Siti lunga meneng-menengan karo sesisihane tanpa pamit.
’Siti pergi diam-diam dengan suaminya tanpa izin.’
(8) Dheweke mangan sawarege ing daleme simbah.
’Dia makan sekenyangnya di rumah nenek.’
(9) Wahyu mlayu saadoh-adohe saka panggonan iku.
’Wahyu lari sejauh-jauhnya dari tempat itu.’
(10) Putri lunga sesidheman liwat lawang mburi.
’Putri pergi diam-diam lewat pintu belakang.’
(11) Simbah mlaku kedarang-darang tumuju daleme paklik.
’Nenek berjalan terlunta-lunta ke rumah paklik.’
(12) Bocah-bocah padha teles kebes amarga kudanan.
’Anak-anak basah kuyup karena kehujanan.’

Dari contoh frasa adverbial verbal bentuk polimorfemis di atas berfungsi mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject. Argumen yang mendampingi frasa adverbial secara tematik dapat berupa agen, dapat juga berupa pasen. Argumen yang berupa agen terlihat dalam contoh (6), (7), (8), (9), (10) dan (11) yang dapat melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan, sedangkan pada contoh (12) tidak dapat melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan sehingga termasuk pasen. Melekatnya frasa adverbial pada verba ini menaikkan valensi dari satu menjadi dua argumen inti. Berdasarkan contoh di atas dapat diambil satu contoh, misalnya (8) yang memiliki argumen berupa agen, sedangkan argumen yang mengikutinya berupa verba dengan adverb yang mengikutinya ’mangan sawarege’ sedangkan yang berkedudukan sebagai adjung yaitu ’ing daleme simbah’.

4.1.2 Berdasarkan Letak Struktural
Berikut ini contoh adverbial verbal berdasarkan letak strukturalnya.
1) Letak Kanan
Berikut disajikan contoh-contoh frasa adverbial yang letak adverbnya ada di sebelah kanan verba yang diijelaskan. Frasa adverbial mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject . Argumen yang mendampingi dapat berupa agen, dapat juga berupa pasen. Argumen agen dapat dilihat pada kalimat (14), (15), dan (16) yang dapat melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan, sedangkan untuk kalimat (13) menunjukkan argumen yang berupa pasen. Melekatnya frasa adverbial pada verba ini menaikkan valensi dari satu menjadi dua argumen inti. Berdasarkan contoh di bawah ini dapat diambil satu contoh, misalnya (15) yang memiliki argumen berupa agen, sedangkan argumen yang mengikutinya berupa verba dengan adverb yang mengikutinya ’meres tenaga entek-entekan’ sedangkan ’kanggo nyukupi kapreluwane kulawarga’ muncul untuk menandai argumen beneficiary.
(13) Wedhuse aja diumbar wae ing plataran!
’Kambingnya jangan dibiarkan saja di halaman!’
(14) Adhik mlaku alon-alon sawise kecelakaan dhek wingi.
’Adik berjalan pelan-pelan sesudah kecelakaan kemarin.’
(15) Bapak meres tenaga entek-entekan kanggo nyukupi kapreluwane kulawarga.
’Bapak memeras tenaga habis-habisan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.’
(16) Paklik anggone sare gedabigan.
’Paklik tidur dengan penuh gerak.’

2) Letak Kiri
Di bawah ini diberikan contoh-contoh penggunaan frasa adverbial verbal yang letak adverbnya di sebelah kiri verba yang dijelaskan.
(17) Aku ora njupuk dompetmu.
’Aku tidak mengambil dompetmu.’
(18) Wahyu ora didukani dening bapak!
’Wahyu tidak dimarahi bapak!’

Berdasarkan data di atas, frasa adverbial yang letaknya di kiri verba yang dijelaskan hanya bisa didampingi oleh kata ’ora’. Frasa adverbial verbal mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject . Argumen yang mendampingi dapat berupa agen yang terdapat dalam kalimat (17) yang dapat melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan, dapat juga berupa pasen seperti contoh (18). Melekatnya frasa adverbial pada verba ini menaikkan valensi dari satu menjadi dua argumen inti. Dari contoh-contoh tersebut, ada argumen yang mengalami foregrounding dan backgrounding, seperti kalimat (18). Pada contoh (18) kalimat yang disajikan berbentuk pasif. Argumen berupa pasen ‘Wahyu’ mengalami foregrounding dari kedudukan objek pada kalimat aktifnya, sedangkan untuk ‘dening bapak’ mengalami backgrounding dari agen menjadi oblik pada kalimat pasif. Untuk perubahan kalimat pasif (18) menjadi bentuk aktif, yaitu ‘Bapak ora ndukani Wahyu’.

3) Letak Bebas
Di bawah ini tersaji contoh-contoh frasa adverbial verbal yang letak adverbnya bebas.
(19) Apike kowe teka.
’Baiknya kamu datang.’
(20) Aku kepengin budhal saiki sajane.
‘Aku ingin berangkat sekarang sebenarnya.’
(21) Aku mau tujune wis mulih.
‘Aku tadi untungnya sudah pulang.’

Berdasarkan data di atas, frasa adverbial yang letaknya bebas terhadap verba yang diberi keterangan yang dijelaskan hanya bisa didampingi oleh kata ’apike’, ’sajane’, dan ’tujune’. Frasa adverbial verbal mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject . Argumen yang mendampingi berupa agen yang terdapat dalam kalimat (19), (20), dan (21) yang dapat melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan. Dari contoh yang tersaji di atas, seperti (20) argumen ‘aku’ berlaku sebagai agen dengan diikuti oleh verba berupa kata ‘kepengin budhal’ dan keterangan ‘saiki’ bertindak sebagai adjung, sedangkan untuk adverb yang menyertainya terletak bebas dengan kata ’sajane’.

4.2 Frasa Adverbial Adjektival
Frasa adverbial adjektival merupakan salah satu jenis frasa adverbial yang berfungsi memberikan keterangan terhadap adjektiva atau kata sifat yang mengikuti atau diikutinya. Pensubkategorian frasa adverbial adjektival tersaji di bawah ini.
4.2.1 Berdasarkan Bentuk
Di bawah ini disajikan contoh frasa adverbial adjektival berdasarkan bentuknya. Frasa adverbial adjektival ini berdasarkan bentuknya hanya bisa didapatkan dalam monomorfemis saja tidak untuk polimorfemis karena bentukan dari polimorfemis berasal dari kata kerja.

1) Monomorfemis
Berdasarkan data yang tersaji di bawah ini, frasa adverbial mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject. Argumen yang mendampingi frasa adverbial adjektival ini berupa pasen. Hal tersebut dikarenakan pelaku dalam kalimat tidak bisa melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan tetapi tertimpa suatu sifat tertentu. Melekatnya frasa adverbial pada adjektiva ini menaikkan valensi dari satu menjadi dua argumen inti. Pada kalimat dengan frasa adverbial adjektival ini tidak mengalami foregrounding ataupun backgrounding sebab argumen-argumen dalam kalimat tidak bisa diubah dari bentuk aktif ke pasif atau sebaliknya. Dengan demikian tidak ada yang mengalami penaikan maupun penurunan tiap kedudukan dalam suatu kalimat berfrasa adverbial adjektival pada bentuk monomorfemis. Berdasarkan salah satu contoh di bawah ini, misalnya (27) argumen yang bertindak sebagai pasen yaitu ’peleme sing takpangan mau’, sedangkan untuk ’semu kecut’ menempati predikatif yang berupa frasa adverbial adjektival.
(22) Susanto luwih dhuwur tinimbang Rudi.
’Susanto lebih tinggi daripada Rudi’
(23) Omah iku gedhe banget.
’Rumah itu besar sekali.’
(24) Sawone tuntung kecut.
’Sawonya terasa sedikit masam.’
(25) Adhine rada nakal tinimbang kangmase.
’Adiknya agak nakal dibanding kakaknya’.
(26) Singgahna dhuwitmu selak ilang dijupuk wong liya.
’Simpanlah uangmu keburu hilang diambil orang lain’.
(27) Peleme sing takpangan mau semu kecut.
’Mangga yang saya makan tadi agak masam.’
(28) Mung begja sing bisa nylametake dheweke.
’Cuma keberuntungan yang bisa menyelamatkan dia.’
(29) Maem sing akeh ya Ndhuk, supaya ndang gedhe.
’Makan yang banyak ya Nak, supaya cepat besar.’
(30) Omahmu kok adoh timen ta?
’Rumahmu kok jauh sekali ta?’
(31) Bocah ora pinter wae koktakoni.
’Anak tidak pandai saja kamu tanyai.’

4.2.2 Berdasarkan Letak Struktural
Berdasarkan letak strukturalnya maka frasa adverbial adjektival dapat dibedakan seperti di bawah ini.
1) Letak Kanan
Di bawah ini disajikan contoh-contoh frasa adverbial adjektival yang letak adverbnya di kanan adjektiva yang dijelaskan.
(32) Dhuwur wae ora tekan 170 cm, kok arep dadi model.
’Tinggi saja tidak sampai 170 cm, kok mau jadi model’
(33) Ani iku pinter banget.
’Ani itu pandai sekali.’
(34) Bocah kok ayu timen ta!
’Anak kok cantik sekali ya!’

Berdasarkan contoh-contoh di atas, frasa adverbial mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject. Argumen yang mendampingi frasa adverbial adjektival ini berupa pasen. Hal tersebut dikarenakan pelaku dalam kalimat tidak bisa melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan tetapi tertimpa suatu sifat tertentu. Dari contoh yang disajikan tersebut diketahui bahwa argumen berupa pasen yang mendampingi frasa adverbial adjektival bisa dieksplisitkan, seperti contoh (33) dan (34), dapat juga pasen diimplisitkan dalam kalimat (32) di atas. Melekatnya frasa adverbial pada adjektiva ini menaikkan valensi dari satu menjadi dua argumen inti. Pada kalimat dengan frasa adverbial adjektival ini tidak mengalami foregrounding ataupun backgrounding sebab argumen-argumen dalam kalimat tidak bisa diubah dari bentuk aktif ke pasif atau sebaliknya. Dengan demikian tidak ada yang mengalami penaikan maupun penurunan tiap kedudukan dalam suatu kalimat berfrasa adverbial adjektival. Seperti contoh (33) yang memiliki argumen berupa pasen yaitu ’Ani iku’ dan predikatif yang berupa frasa adverbial adjektival pada kata ’pinter banget’.

2) Letak Kiri
Di bawah ini disajikan contoh-contoh frasa adverbial adjektival yang letaknya di kiri adjektival yang dijelaskan. Dalam bentuk ini frasa adverbial mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject. Argumen yang mendampingi frasa adverbial adjektival ini berupa pasen. Hal tersebut dikarenakan pelaku dalam kalimat tidak bisa melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan tetapi tertimpa suatu sifat tertentu. Melekatnya frasa adverbial pada adjektiva ini menaikkan valensi dari satu menjadi dua argumen inti. Pada kalimat dengan frasa adverbial adjektival ini tidak mengalami foregrounding ataupun backgrounding sebab argumen-argumen dalam kalimat tidak bisa diubah dari bentuk aktif ke pasif atau sebaliknya. Dengan demikian tidak ada yang mengalami penaikan maupun penurunan tiap kedudukan dalam suatu kalimat berfrasa adverbial adjektival. Seperti contoh (36) yang memiliki argumen berupa pasen yaitu ’Putro’ dengan predikatif yang berupa frasa adverbial adjektival pada kata ’wis rada pinter’, sedangkan kata ’saiki’ yang terletak di antara pasen dan predikat berlaku sebagai adjung.
(35) Ani luwih ayu tinimbang Susi.
’Ani lebih cantik daripada Susi’
(36) Putro saiki wis rada pinter.
’Putro sekarang sudah agak pandai’
(37) Bocah ora pinter kok keminter.
’Anak tidak pandai saja kok merasa pandai’

3) Letak Bebas
Berikut diberikan contoh-contoh frasa adverbial adjektival yang letak adverbnya bebas.
(38) Tujune dheweke sabar, lek ora bakal diclathu kowe.
’Untungnya dia sabar, misal tidak akan dimarahi kamu.’
(39) Aku kayane bakal pinter yen gelem sregep sinau.
’Aku sepertinya akan pandai jika mau rajin belajar .’

Berdasarkan contoh-contoh di atas, frasa adverbial mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject. Argumen yang mendampingi frasa adverbial adjektival ini berupa pasen. Hal tersebut dikarenakan pelaku dalam kalimat tidak bisa melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan tetapi tertimpa suatu sifat tertentu. Dari contoh yang disajikan tersebut diketahui bahwa letak adverb yang mendampingi adjektival letaknya bebas, tidak terpaku melekat dengan adjektiva yang dijelaskan. Pada kalimat dengan frasa adverbial adjektival ini tidak mengalami foregrounding ataupun backgrounding sebab argumen-argumen dalam kalimat tidak bisa diubah dari bentuk aktif ke pasif atau sebaliknya. Dengan demikian tidak ada yang mengalami penaikan maupun penurunan tiap kedudukan dalam suatu kalimat berfrasa adverbial adjektival yang letaknya bebas ini. Pada contoh (39) yang memiliki argumen berupa pasen yaitu ’aku’ dengan predikatif yang berupa frasa adverbial adjektival pada kata ’bakal pinter’ yang diikuti dengan adjung yaitu ’ yen gelem sregep sinau’, sedangkan ’kayane’ bertindak sebagai adverb yang menyertai adjektival terletak bebas di antara pasen dan predikat .

4.3 Frasa Adverbial Nominal Predikatif
Frasa adverbial yang adverbnya berfungsi mengisi atau menempati fungsi predikat yang berupa kata nomina. Pensubkategorian frasa adverbial nominal predikatif tersaji di bawah ini.
4.3.1 Berdasarkan Bentuk
Berdasarkan bentuknya frasa adverbial nominal predikatif terbagi seperti di bawah ini. Pada frasa adverbial nominal predikatif ini yang mengalami perubahan bentuk hanya pada tingkat monomorfemis saja, sedangkan perubahan pada tingkat polimorfemis tidak bisa ditemukan sebab predikat hanya bisa ditemui pada bentuk kata kerja atau kata sifat saja.
1) Monomorfemis
Berdasarkan data yang tersaji di bawah ini, frasa adverbial mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject. Argumen yang mendampingi frasa adverbial nominal predikatif ini berupa pasen. Hal tersebut dikarenakan pelaku dalam kalimat tidak bisa melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan tetapi tertimpa suatu nominal tertentu. Melekatnya frasa adverbial pada nominal ini menaikkan valensi dari satu menjadi dua argumen inti. Pada kalimat dengan frasa adverbial nominal predikatif ini tidak mengalami foregrounding ataupun backgrounding sebab argumen-argumen dalam kalimat tidak bisa diubah dari bentuk aktif ke pasif atau sebaliknya. Dengan demikian tidak ada yang mengalami penaikan maupun penurunan tiap kedudukan dalam suatu kalimat berfrasa adverbial nominal predikatif pada bentuk monomorfemis. Berdasarkan salah satu contoh di bawah ini, misalnya (40) argumen yang bertindak sebagai pasen yaitu ’bojone’, sedangkan untuk ’mung pegawe rendhahan’ menempati predikatif yang berupa frasa adverbial nominal predikatif.
(40) Bojone mung pegawe rendhahan.
’Suaminya hanya pegawai rendahan’
(41) Bapake guru wae ngakune dokter.
’Bapaknya guru saja ngakunya dokter.’

4.3.2 Berdasarkan Letak Struktural
Dengan memperhatikan letak strukturalnya frasa adverbial nominal predikatif dapat dibedakan sebagai berikut.
1) Letak Kanan
Di bawah ini diberikan contoh-contoh frasa nominal predikatif yang letak adverbnya di kanan kata yang diberi keterangan.
(42) Simbahe tukang bakso wae ngakune mandor.
’Kakeknya tukang bakso saja ngakunya majikan’
(43) Kowe iku babu wae, ora usah cawe-cawe urusanku.
’Kamu itu cuma pembantu saja, jangan campur tangan urusanku.’

Berdasarkan contoh-contoh di atas, frasa adverbial mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject. Argumen yang mendampingi frasa adverbial nominal predikatif ini berupa pasen. Hal tersebut dikarenakan pelaku dalam kalimat tidak bisa melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan tetapi tertimpa suatu sifat tertentu. Melekatnya frasa adverbial pada nominal predikatif ini menaikkan valensi dari satu menjadi dua argumen inti. Pada kalimat dengan frasa adverbial adjektival ini tidak mengalami foregrounding ataupun backgrounding sebab argumen-argumen dalam kalimat tidak bisa diubah dari bentuk aktif ke pasif atau sebaliknya. Dengan demikian tidak ada yang mengalami penaikan maupun penurunan tiap kedudukan dalam suatu kalimat berfrasa adverbial nominal predikatif. Seperti contoh (43) yang memiliki argumen berupa pasen yaitu ’simbahe’ dan predikatif yang berupa frasa adverbial nominal predikatif pada kata ’tukang bakso wae’ dengan ’ngakune mandor, sebagai anak kalimat dari induk kalimat ’simbahe tukang bakso wae’.
2) Letak Kiri
Di bawah ini disajikan contoh-contoh frasa adverbial nominal predikatif yang letaknya di kiri adjektival yang dijelaskan. Dalam bentuk ini frasa adverbial mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject. Argumen yang mendampingi frasa adverbial nominal predikatif ini berupa pasen. Hal tersebut dikarenakan pelaku dalam kalimat tidak bisa melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan. Melekatnya frasa adverbial pada nominal predikatif ini menaikkan valensi dari satu menjadi dua argumen inti. Pada kalimat dengan frasa adverbial nominal predikatif ini tidak mengalami foregrounding ataupun backgrounding sebab argumen-argumen dalam kalimat tidak bisa diubah dari bentuk aktif ke pasif atau sebaliknya. Dengan demikian tidak ada yang mengalami penaikan maupun penurunan tiap kedudukan dalam suatu kalimat berfrasa adverbial nominal predikatif. Seperti contoh (44) yang memiliki argumen berupa pesen ’aku’ dengan predikatif yang berupa frasa adverbial nominal predikatif pada kata ’mung tukang sol sepatu’ dan (45) yang memiliki argumen berupa pasen yaitu ’Siti’ dengan predikatif yang berupa frasa adverbial nominal predikatif pada kata ’mung murid SD’.
(44) Aku iki mung tukang sol sepatu.
’Aku ini cuma tukang jahit sepatu .’
(45) Siti iku mung murid SD.
’Siti itu cuma murid SD’

3) Letak Bebas
Di bawah ini disajikan contoh-contoh frasa adverbial nominal predikatif yang letak adverbnya bebas dalam suatu kalimat.
(46) Mesthine kowe iki mung dadi buruh.
Seharusnya kamu ini cuma jadi buruh .’
(47) Kowe iki apike dadi dokter.
‘Kamu itu sebaiknya jadi dokter.’

Berdasarkan contoh-contoh di atas, frasa adverbial nominal predikatif mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject. Argumen yang mendampingi frasa adverbial nominal predikatif ini berupa pasen bersifat eksplisit. Hal tersebut dikarenakan pelaku dalam kalimat tidak bisa melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan tetapi tertimpa suatu sifat tertentu. Dari contoh yang disajikan tersebut diketahui bahwa letak adverb yang mendampingi nominal predikatif letaknya bebas, tidak terpaku melekat dengan nominal predikatif yang dijelaskan. Pada kalimat dengan frasa adverbial nominal predikatif ini tidak mengalami foregrounding ataupun backgrounding sebab argumen-argumen dalam kalimat tidak bisa diubah dari bentuk aktif ke pasif atau sebaliknya. Dengan demikian tidak ada yang mengalami penaikan maupun penurunan tiap kedudukan dalam suatu kalimat berfrasa adverbial nominal predikatif yang letaknya bebas ini. Pada contoh (47) yang memiliki argumen berupa pasen yaitu ’kowe’ dengan predikatif yang berupa frasa adverbial nominal predikatif pada kata ’ dadi dokter, sedangkan untuk kata ’apike’ berlaku sebagai adverb terhadap kata ’dadi dokter’ dengan terletak bebas diantara pasen dan nominal predikatif.

4.4 Frasa Adverbial Klausal
Frasa adverbial klausal merupakan salah satu kategori frasa adverbial yang bersifat menerangkan kalimat perintah atau saran. Bagaimana pensubkategorian frasa adverbial klausal akan dijelaskan di bawah ini.
3.4.1 Berdasarkan Bentuk
Berdasarkan bentuknya frasa adverbial klausal dapat dibedakan seperti contoh-contoh di bawah ini.
1) Monomorfemis
Berdasarkan data yang tersaji di bawah ini, frasa adverbial mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject. Argumen yang mendampingi frasa adverbial klausal ini berupa agen. Hal tersebut dikarenakan pelaku dalam kalimat bisa melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan tetapi tertimpa suatu nominal tertentu. Agen pada kalimat dengan frasa klausal ini bisa dieksplisitkan seperti contoh (48) dan (50), bisa juga diimplisitkan seperti kalimat (49). Melekatnya frasa adverbial pada klausal ini menaikkan valensi dari satu menjadi dua argumen inti. Pada kalimat dengan frasa adverbial klausal ini tidak mengalami foregrounding ataupun backgrounding sebab argumen-argumen dalam kalimat tidak bisa diubah dari bentuk aktif ke pasif atau sebaliknya. Dengan demikian tidak ada yang mengalami penaikan maupun penurunan tiap kedudukan dalam suatu kalimat berfrasa adverbial klausal pada bentuk monomorfemis. Berdasarkan salah satu contoh di bawah ini, misalnya (48) argumen yang bertindak sebagai agen yaitu ’kowe’, sedangkan untuk ’adus’ menempati predikatif yang berupa frasa adverbial klausal dengan penjelasan adverb ’luwih becike’ serta diikuti adjung ’saiki’.
(48) Luwih becike kowe adus saiki!
’Lebih baik kamu mandi sekarang!’
(49) Ndang kandhanana adhimu kae!
’Cepat nasihati adikmu itu!’

2) Polimorfemis
Dari contoh frasa adverbial klausal bentuk polimorfemis di bawah berfungsi mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject. Argumen yang mendampingi frasa adverbial secara tematik dapat berupa agen bersifat implisit. Hal ini dikarenakan argumen dapat mengontrol suatu kegiatan. Melekatnya frasa adverbial pada klausal ini menaikkan valensi dari satu menjadi dua argumen inti. Berdasarkan contoh di bawah dapat diambil satu contoh, misalnya (50) yang memiliki argumen berupa agen yang bersifat implisit, sedangkan argumen yang mengikutinya berupa klausal dengan adverb yang mengikutinya ’gage-gage’ dengan klausal yang dijelaskan yaitu ’budhala’.
(50) Gage-gage budhala!
’Cepat-cepat berangkat sana’
(51) Alon-alon mlakua ngulon!
’Pelan-pelan berjalanlah ke barat’

3.4.2 Berdasarkan Letak Struktural
Berikut ini contoh frasa adverbial klausal berdasarkan letak strukturalnya.
1) Letak Kanan
Berdasarkan contoh-contoh di atas, frasa adverbial mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject. Argumen yang mendampingi frasa adverbial klausal ini berupa pasen. Hal tersebut dikarenakan pelaku dalam kalimat tidak bisa melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan tetapi tertimpa suatu sifat tertentu. Melekatnya frasa adverbial pada klausal ini menaikkan valensi dari satu menjadi dua argumen inti. Pada kalimat dengan frasa adverbial klausal di bawah ini bisa mengalami foregrounding ataupun backgrounding. ’wedhuse’ pada kalimat (52) mengalami ’foregrounding’ dari objek menjadi pasen, sedangkan agen yang diimplisitkan mengalami ’backgrounding’ dari agen menjadi objek yang diimplisitkan. Pada kalimat (52) pasen diduduki kata ’wedhuse’ dengan klausal ’aja diumbar’ serta diikuti adverb yang terletak di kanan klausal yang dijelaskan yaitu ’wae’.
(52) Wedhuse aja diumbar wae!
’Kambingnya jangan dibiarkan saja!’

2) Letak Kiri
Di bawah ini disajikan contoh-contoh frasa adverbial yang letaknya di kiri klausal yang dijelaskan. Dalam bentuk ini frasa adverbial mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject. Argumen yang mendampingi frasa adverbial klausal ini berupa agen yang bisa dieksplisitkan maupun diimplisitkan seperti tampak pada contoh (53), sedangkan pada contoh (54) argumen yang mendampingi frasa adverbial klausal berupa pesen yang bersifat eksplisit yaitu ’kowe’ dan adverbialnya yaitu ’ndang’. Melekatnya frasa adverbial pada klausal ini menaikkan valensi dari satu menjadi dua argumen inti. Pada kalimat dengan frasa adverbial klausal ini tidak mengalami foregrounding ataupun backgrounding sebab argumen-argumen dalam kalimat tidak bisa diubah dari bentuk aktif ke pasif atau sebaliknya. Dengan demikian tidak ada yang mengalami penaikan maupun penurunan tiap kedudukan dalam suatu kalimat berfrasa adverbial klausal. Pada contoh (53) ’adusa’ berlaku sebagai klausal dengan adverb ‘ndang’ yang terletak di kiri klausal yang dijelaskan.
(53) Ndang adusa!
’Cepat mandi sana!’
(54) Luwih becike kowe mrana!
’Baiknya kamu ke sana!’

3) Letak Bebas
Berdasarkan contoh-contoh di atas, frasa adverbial mendampingi l-subject yang sekaligus menempati gf-subject. Argumen yang mendampingi frasa adverbial klausal ini berupa agen. Hal tersebut dikarenakan pelaku dalam kalimat bisa melakukan kontrol terhadap suatu kegiatan. Dari contoh yang disajikan tersebut diketahui bahwa letak adverb yang mendampingi klausal letaknya bebas, tidak terpaku melekat dengan klausal yang dijelaskan. Pada kalimat dengan frasa adverbial klausal ini tidak mengalami foregrounding ataupun backgrounding sebab argumen-argumen dalam kalimat tidak bisa diubah dari bentuk aktif ke pasif atau sebaliknya. Dengan demikian tidak ada yang mengalami penaikan maupun penurunan tiap kedudukan dalam suatu kalimat berfrasa adverbial klausal yang letaknya bebas ini. Pada contoh (55) dan (56) agen diimplisitkan, sedangkan pada contoh (57) agen dieksplisitkan. Pada contoh (57) ’kowe’ berlaku sebagai agen dengan diikuti klausal ’adus’ serta dilengkapi adjung yaitu ’mau’, sedangkan ’kudune’ bertindak sebagai adverb terhadap kata ’adus’.
(55) Apike kandhanana kancamu iku!
’Baiknya nasihatilah temanmu itu!’
(56) Mesthine budhala saiki!
’Seharusnya berangkatlah sekarang!
(57) Kowe adus kudune mau!
‘Kamu mandi seharusnya tadi!’



BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa frasa adverbial itu dibedakan dengan keterangan sebagai fungsi sintaksis yang diketahui sebagian orang selama ini. Frasa adverbial mempunyai fungsi memberikan keterangan terhadap kata pada suatu kedudukan tertentu dalam suatu kalimat baik yang mengikuti maupun yang diikutinya. Bedasarkan kategorinya frasa adverbial dapat digolongkan menjadi empat jenis, yaitu frasa adverbial verbal, frasa adverbial adjektifal, frasa adverbial nominal predikatif, dan frase adverbial klausal. Dari masing-masing kategori tersebut dapat digolongkan lagi menjadi beberapa subkategori yang didasarkan pada bentuk dan letak strukturnya. Subkategori frase adverbial berdasarkan bentuknya dapat dibagi lagi menjadi monomorfemis dan polimorfemis, sedangkan frase adverbial berdasarkan letak strukturalnya dapat dibagi menjadi letak kanan, letak kiri, dan letak bebas.










DAFTAR PUSTAKA


Antunsuhono, S. 1956. Reringkesaning Paramasastra Djawa. Djokdja:Hien Hoo Sing

Keraf, Gorys. 1979. Tatabahasa Indonesia. Jakarta:Nusa Indah

Muslich, Mansur. 2008. Tatabentuk Bahasa Indonesia Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif. Jakarta:Bumi Aksara

Padmosoekotjo, S. 1956. Sarine Basa Djawa. Djakarta:Noordhoff-Kolff N.V.

----------------. 1986. Paramasastra Djawa.Surabaya:PT Citra Jaya Murti

Poerwadarminta. 1956. Sarining Paramasastra Djawa. Djokdja: Hien Hoo Sing

Putrayasa, Ida Bagus. 2008. Kajian Morfologi (Bentuk Derivasional dan Infleksional). Bandung:PT Refika Aditama

Sasangka, Sry Satya Tjatur Wisnu. 2008. Paramasastra Gagrag Anyar Basa Jawa. Jakarta:PT Citra Jaya Murti

Sudaryanto. 1991. Tatabahasa Baku Bahasa Jawa. Yogyakarta:Duta Wacana University Press

-------------. 1991. Metode Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Verhaar, J.W.M. 1992. Pengantar Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

----------. 2006. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press

1 komentar: